
The Cloves and The Tobacco, band celtic punk asal Yogya pernah menulis lagu yang judulnya Sajak Usang Kelas Pekerja, bercerita tentang problematika kelas pekerja yang harus menghadapi kenyataan pahit dikalahkan oleh sistem.
Gue teringat cerita temen gue tentang situasi yang dihadapi istrinya yang sedikit banyak tergambar di lagu tadi. Gimana engga coba, istrinya ini tergolong orang yang jenius, fast learner, kapabilitas dan kredibilitasnya secara profesional jelas di atas rata-rata koleganya. Namun, dia tergolong hijau dalam menghadapi kusut masai dunia birokrasi. Mentalnya luluh lantak mendapati kenyataan pahit bahwa yang dihadapinya adalah daftar kerjaan yang kurang masuk akal dari atasannya, yang secara kasat mata semata untuk dapetin credit point dari Big Boss, segala daya upaya yang dia kerahkan untuk kepentingan kantornya dimentahkan oleh retorika ego pejabat di kantornya, haknya untuk diapresiasi dikebiri cuman karena dia tergolong junior, dan keinginannya untuk downgrade jabatan demi memenuhi passion-nya terhalang oleh sistem. Problematika yang dia hadapi itu tipikal banget buat kelas menengah pekerja.
Di luar urusan kantor, keadaan tak kalah runyam. Dia ngeliat keadaan sosial di sekitarnya sedang tidak baik-baik saja, dan menurutnya negara yang salah kelola adalah variabel utamanya. Wajar dia mikir gitu, dia tuh well-educated, well-informed. Again, tipikal kelas menengah.
Salafisme, sependek pemahaman gue, adalah paham puritan ultra-konservatif–salah satu faksi dalam Islam yang menginginkan segala aspek kehidupan dikembalikan sesuai tatanan Islam di awal peradabannya, I mean di masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ulama mazhab ini berkeyakinan kalau semua aspek kehidupan dikembalikan seperti zaman itu, keadaan sosial akan berubah jauh lebih baik dibanding kondisi kiwari. Terdengar utopis, tapi menurut gue jelas masih rasional. Apakah salah? Ya ga lah! Yang salah menurut gue adalah sebagian ulama maupun penganutnya menghalalkan segala cara untuk mencapai hal itu bahkan dengan kekerasan pun diskriminasi terhadap yang ga sepaham. Jadinya, bagi faksi lain dalam Islam, penganut mazhab ini sering dicap sebagai radikalis.
Belakangan, muncul ustadz dari mazhab ini yang popularitasnya sedang memuncak. Dia menawarkan utopia tadi dengan balutan bahasa dan alur pikir serta konstruksi nalar yang sangat tune in ke kelas menengah kebanyakan pun istri temen gue tadi. Dia memancing pemikiran kritis dari pendengarnya dalam memandang persoalan kehidupan, termasuk dalam konteks bernegara, dengan mengkomparasi situasi terkini dengan situasi yang dibayangkan oleh Salafisme. Dengan kekayaan referensi, bahasa yang runut, keahlian dalam mengaitkan suatu fenomena dengan ayat-ayat dalam kitab suci, jelas metode ustadz ini sangat berhasil dalam menggaet penggemar segimanapun dia pernah dilabeli radikalis. Pun gue, setelah mendengarkan beberapa podcast-nya, ngerasa sangat layak buat diinternalisasi pemikiran ustadz ini. Dengan catatan tentu saja, tanpa menghalalkan segala cara dan diskriminasi ke minoritas.
Utopia Salafisme modern ini jelas sangat relate sama solusi yang dicari kelas menengah atas problematika yang dihadapi. Kelas sosial ini jelas perlu lari dari kenyataan sehari-hari, escape from reality, yang bagi sebagiannya jelas udah sampe ke level menggerogoti kesehatan mental mereka. Muak sama kehidupan profesional pun sosial mereka. Eskapisme yang jelas-jelas dengan mudah dipeluk oleh Salafisme modern versi ustadz ini. Setidaknya menurut gue.
Dengan begitu, optimisme kelas menengah dalam menghadapi problematikanya tadi jadi kaya nemuin jalan terang. Macam optimisme The Cloves and The Tobacco;
“Satu hal yang tak kan dia lacurkan Kebanggan kan selalu dalam dekap erat dan takkan hilang
Terus melangkah dia, Walaupun semesta tak mendengarkan, Harmoni dijejalkan di Sajak Usang Kelas Pekerja.”
Selamat malam, Kelas Pekerja! Rebahkan sejenak badanmu, Nikmati dulu libur Paskahmu!
Leave a comment