
Russ Rankin, vokalis Good Riddance pernah nulis lagu yang even temponya cepet liriknya berasa dalem, setidaknya buat gue. Lagu itu, One for The Braves, ada di album Phenomenon of Craving. Di lagu itu dia memakai sudut pandang sebagai orang yang mencoba menyemangati korban bullying tetapi tidak punya kapabilitas memadai buat melakukan aksi nyata. Terkesan putus asa tapi juga penuh harap. Jujur sama keadaan.
“And I don’t have all the answers yet
But I get scared when you’re upset
And your heart feels like an empty home
When you feel so scared and all alone..”
Nikola Sarcevic dari Millencolin juga pernah nulis lagu tentang bullying tapi memakai sudut pandang yang berbeda. Dia memakai sudut pandang orang pertama yang frustrasi dan mencoba segenap cara buat bisa dapet tempat di dunia nyata, mulai dari ngubah mindset, ngubah rencana, bahkan ngubah gaya pakaian. Penuh harap dan jujur juga sama keadaan.
“I’m gonna change my life, change my plans, change my Vans, even start dance now…”
Tony Sly pun sama, bahkan pernah sampai di satu titik mempertanyakan eksistensi Tuhan karena kecemasannya terhadap anaknya yang nantinya pas gede bakalan ngadepin dunia nyata. Dia menulis lagu buat anak keduanya, Keira, yang masih kecil pas dia bikin lagu itu.
“Life for you is a better view
So simple and perfectly sane
If I pretend that you have a god
I know that you’ll be saved..”
Preferensi musik gue yang mengantarkan gue terpapar lagu-lagu mereka. Pun, cenderung merasionalisasi dan mempersonalisasi lagu-lagu tadi karena memang berasa relate banget di gue. Kenapa? Gue pikir karena benang merah dari lirik lagu-lagu tadi; jujur sama keadaan. Ga ada pretensi untuk jadi superhero yang mampu menyelesaikan semua persoalan hidup ataupun membohongi diri bahwa keadaan baik-baik saja.
Bullying ini memang destruktif efeknya. Anjing banget! Mau di level usia bocil sekolahan ataupun di level usia orang dewasa kantoran. Ga cuman bikin anak takut buat masuk sekolah tapi juga bisa bikin mewek di pojokan kantor di musholah. Mental abuse ini ga cuman berwujud, “Oi gendut lu, kek babi lu, sana jangan gabung sama kita maennya!” tapi bisa juga mewujud dalam gunjingan di kubikel tentang bagaimana duit negara dituding dihambur-hamburkan, dituding kerja terus karena cari muka, atau dalam kalimat kasak kusuk, “Kayanya ini palsu deh, beda bentuk ama kemasannya loh. Bisa keracunan kalo kek gini dikonsumsi mah. Serem ah.”
Overheard gue tentang hal-hal memuakkan gini tuh yang bikin gue bikin tulisan ini. Solutif? Ga lah! Provokatif? Ga juga. Gue cuman mencoba menuangkan keresahan gue sama perundungan yang dialami kolega gue. Gue bisa jadi adalah Russ Rankin dalam versi pegawai pajak KPP Pratama Garut. Putus asa tapi penuh harap. Ga lebih, ga kurang.
Semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan untuk melawan segala bentuk penindasan. Amin.



